Tragedi Logending dan Mitos Laut Kidul Sembunyikan Korban Tenggelam

Laut Selatan Kebumen kembali menelan korban. Seorang nelayan asal Pasir, Kebumen, atas nama Syarif jadi korban. Ia hilang tenggelam di laut kidul.Ceritanya tekong perahu ini memimpin tiga rekannya melaut di perairan selatan Kebumen. Mereka lantas hendak mendarat ke Pantai Logending ketika melihat gelombang laut selatan tak bersahabat.
Sekitar pukul 20.00 WIB, perahu itu sampai ke perairan Logending. Nahas, ketika sudah dekat pintu masuk atau bridgewater Logending, satu ombak tinggi melabrak perahu yang dikemudikan Syarif.Perahu terbalik dan menyebabkan empat nelayan tenggelam di laut kidul.Beruntung, tiga orang berhasil selamat usai ditolong oleh nelayan-nelayan yang berada di sekitar lokasi.
Tiga nelayan yang selamat adalah Kawan, Waris, dan Saeful yang berasal dari desa yang sama dengan Syarif. Sayangnya, Syarif,
sang tekong perahu, justru raib ditelan ombak.
“Nah, begitu saat akan masuk ke bridgewater itu, pintu masuk itu, dihantam ombak dan terbalik,” kata Moelwahyono, Komandan Basarnas Pos SAR Cilacap, Rabu, 10 Juli 2019.
Upaya penyelamatan pun langsung dilakukan oleh nelayan setempat. Namun, gelap malam dan gelombang tinggi menghambat pencarian ini. Tengah malam, pencarian dihentikan.
Pagi harinya, Basarnas memberangkatkan satu regu SAR yang berbekal penyelamatan air lengkap, seperti perahu dan alat selam. Mereka bergabung dengan tim SAR lain yang sudah mencari keberadaan korban tenggelam laut kidul.Akhirnya, Rabu tengah hari, korban ditemukan dan dievakuasi oleh tim SAR gabungan. Selanjutnya, korban dibawa ke rumah duka.
“Pada pukul 12.20 kondisi MD, posisi diketemukan tidak jauh dari TKP,” ucap Moelwahyono.
Melihat kasus ini, bisa saja memunculkan persepsi bahwa pencarian korban tenggalam di laut selatan Kebumen mudah. Kurang dari 24 jam, korban bisa ditemukan.
Namun, rupanya pencarian tak selalu mudah. Terkadang, pencarian orang tenggelam di pantai selatan terkait dengan satu kata sakral, keberuntungan.
Kasus sebelumnya bisa menjadi contoh.Tak sampai sepekan sebelumnya,seorang remaja asal Kebon manis, Cilacap tenggelam di Pantai Kemiren. Ia hilang tenggelam saat berenang bersama seorang rekannya, Akmal (14).
Korban baru ditemukan usai tiga hari pencarian,Yang mengherankan, korban ditemukan masih di sekitar lokasi kejadian.
Moelwahyono mengatakan, laut selatan berkarakter unik.Korban tenggelam Laut Kidul sering kali ditemukan tak jauh dari lokasi, meski sudah hilang berhari-hari. Jaraknya, bisa satu atau dua kilometer dari lokasi. Bisa pula hanya hitungan selemparan batu, ratusan meter.
Sebelumnya, awal Juni 2019, tiga orang tersapu ombak di Pantai Suwuk, Kebumen. Satu orang selamat. Namun, dua lainnya tenggelam ditelan arus laut. Dua korban adalah Arya Kusuma(14) dan Supriyanto (39).Akhirnya, Senin pagi, 10 Juni 2019, salah satu jenazah korban ditemukan. Belakangan korban diidentifikasi sebagai Arya. Ia ditemukan di Pantai Criwik, Kebumen.
Mungkin ini terdengar aneh, tetapi kenyataannya begitu. Pantai Criwik berjarak kurang dari dua kilometer dari Pantai Suwuk, di mana Arya tenggelam, lima hari sebelumnya.
Tak aneh, jika karakter laut selatan yang unik itu menciptakan legenda dan mitos-mitos pada masa lalu. Dan bahkan, sebagian masyarakat di kelompok tertentu masih meyakini legenda dan mitos itu hingga hari ini.
Laut Selatan Jawa atau lebih dikenal dengan Laut Kidul oleh masyarakat Jawa memang begitu berpengaruh terhadap budaya dan adat istiadat masyarakat pesisir selatan. Legenda dan mitologinya, bahkan, berkelindan dengan kekuasaan politik kerajaan-kerajaan kuno di Pulau Jawa.
Kini, barang kali pengaruh Laut Kidul terhadap budaya dan politik di Jawa sudah surut. Namun, cerita-cerita Laut Kidul terkadang masih saja dibicarakan jika terjadi sebuah peristiwa kecelakaan laut atau orang tenggelam.
Terlepas dari legenda dan mitologi yang mewarnai kehidupan masyarakat pesisir, keunikan Laut Kidul sudah menjadi bagian dari peri kehidupan nelayan dan orang-orang yang beraktivitas di sekitarnya. Misterinya terkadang tak terpecahkan, hingga hari ini.