Rahasia di Balik Laut Kidul yang Sering Menelan Korban

Rifki Nasrulloh (17) bersama tiga rekannya berlibur ke Pantai Tanggulangin Kecamatan Klirong, Kebumen, Jawa Tengah.laut kidulmenyapa daratan dengan mengempaskan ombak yang beriringan.
Hewan pinggir pantai yang oleh orang lokal disebut yutuk atau undur-undur membuat mereka riang. Kawanan sebaya lantas mengejar-ngejar hewan yang bisa begitu cepat berlari di hamparan pasir ini.Suasana riang itu mendadak berubah menjadi kepanikan saat Rifki terseret ombak. Barangkali lantaran terlalu asyik, Rifki terseret ombak besar yang tiba-tiba menyergap.
Tiga kawannya, Eko (15), Tomi (17), dan Anas (14) berupaya menolong. Salah satunya bahkan sempat berhasil meraih tangan Rifki. Sayang, tarikan ombak balik laut kidul begitu kuat sehingga pegangan tangan mereka terlepas.Operasi pencarian pun dimulai begitu peristiwa ini terjadi. Namun, hingga berjam-jam kemudian, Rifki tak berhasil ditemukan. Ia pun dinyatakan hilang.
Dua hari kemudian, Kamis sore, jasad Rifki ditemukan. Jasad ditemukan menepi di bibir Pantai Setrojenar, sekitar pukul 06.30 WIB.
“Korban ditemukan kurang lebih 1,5 km dari TKP ia terseret ombak. Korban ditemukan tim SAR gabungan saat penyisiran,” ucap Kapolres Kebumen, AKBP Arief Bahtiar, Kamis sore.
Dia pun mengimbau agar seluruh masyarakat Kebumen yang akan berwisata ke pantai untuk tak lalai saat berenang atau bermain di tepi laut. Dikhawatirkan,laut kidul
bakal kembali menelan Korban.Imbauan Arif ini sangat beralasan. Sebabnya, ternyata, dalam catatan Badan Search and Rescue(Basarnas) Pos SAR Cilacap, sepanjang Oktober dan November 2018 ini, sebanyak delapan korban di pantai selatan Cilacap dan Kebumen.
Komandan Basarnas Pos SAR Cilacap, Moelwahyono mengatakan, dari delapan korban tersebut, tiga terjadi di Cilacap. Lima lainnya, di pantai selatan Kebumen.
Badan Search and Rescue (Basarnas) Pos SAR Cilacap, Jawa Tengah mencatat sepanjang Oktober dan November 2018, atau dua bulan, delapan korban meninggal dievakuasi dari pantai selatan Cilacap dan Kebumen.Komandan Basarnas Pos SAR Cilacap, Moelwahyono mengatakan, dari delapan korban, tiga terjadi di Cilacap, sedangkan lima lainnya terjadi di Pantai Kebumen.
“Semua itu, karena itu, para korban, itu rata-rata bermain atau mandi-mandi di pinggir pantai. Itu sebagian untuk korban yang hanyut atau terbawa ombak,” ucap Moelwahyono, Kamis malam.
Kasus terseretnya Rifki di pinggir pantai menunjukkan ketidakwaspadaan wisatawan atau pengunjung pantai terhadap ombak laut selatan yang terkenal ganas. Beberapa kasus menunjukkan bahwa korban bukan berasal dari sekitar kawasan pantai yang paham tabiat pantai selatan.
Mulwahyono mengungkapkan, wisatawan terkadang tertipu dengan penampakan pantai yang cenderung tenang. Padahal, arus bawahnya sangat kuat.
Arus kuat itu ditengarai disebabkan oleh keberadaan laut dalam atau palung laut yang berdekatan dengan pantai. Akibatnya, pusaran dan arus bawah lautnya sangat kuat.
“Kelihatannya tenang, tapi arus bawahnya kuat dan sifatnya mengisap,” dia mengatakan.
Moelwahyono mengemukakan, berbeda dari kasus wisatawan yang terseret ombak, dalam kasus nelayan yang tenggelam, faktor safety atau keselamatan berlayar kerap diabaikan nelayan Cilacap dan Kebumen. Akibatnya, saat perahu pecah atau tenggelam diempas ombak, mereka turut tenggelam lantaran tak memakai pelampung.
Moelwahyono menyarankan agar wisatawan dan nelayan Cilacap untuk mewaspadai kemungkinan empasan ombak besar. Salah satu caranya, yakni tak terlampau dekat dengan air apalagi sampai berenang di laut. Ia juga mengimbau agar nelayan membiasakan diri memakai pelampung.