Menjelajahi pelaku usaha wisata yang mengatakan orang kapok ke Anyer!

Masih ingat cerita-cerita wisatawan digetok harga saat liburan ke Pantai Anyer, Banten? Itulah praktik buruk penguasaan objek wisata oleh segelintir pihak. Turis jadi kapok.
Pegiat pariwisata khususnya di kawasan Anyer,Banten kini mengaku kesulitan menjual pariwisata di sana. Karena dikelola perseorangan, pariwisata di sana kurang terlalu menjual dan dikelola seadanya. “Jadi mau jual Anyer berantakan. Tugu Selamat Datang Anyer, jadi tempat sampah umum,” kata Arief Kirdiat yang juga Ketua Asosiasi Homestay Banten saat berbincang dengan kabarberita,Serang. Bukan isapan jempol, traveler bisa cek sendiri pakai Google Street View soal Tugu Kecamatan Anyer yang penuh tumpukan sampah. Masalah lainnya adalah praktik bersifat pemerasan terhadap wisatawan.Arief mengatakan, bukan rahasia umum jika harga masuk kawasan sana mahal. Khusus di hari libur, mobil kadang dipatok harga sampai Rp 150 ribu sekali parkir di pantai kawasan Anyer. Belum lagi, urusan restoran yang mematok harga seenaknya.
“Orang kapok ke Anyer sekarang ini, teman-teman travel agent dari Jakarta pada ngeluh. Sekali makan 5 orang Rp 700 ribu sampai satu juta. sudah hilang sinar pariwisata Anyer,” ujarnya.
Ia menuturkan, hegemoni penguasan perhotelan dan perorangan di pantai Anyer sangat kuat. Makanya, setiap akses pantai dipagari dan menutup akses bagi publik. Padahal, garis pantai ini mencapai puluhan kilometer sampai ke kawasan Carita di Pandeglang. Hampir bisa dipastikan tak ada pantai yang masuk kategori publik.Sebetulnya, pemerintah daerah bisa buat zonasi wisata khusus seperti Bali. Ada pantai yang privat dan diakses publik. Tapi ini susah terwujud karena pemerintah tidak mengerti bagaimana menjual pariwisata
“Kasihan akhirnya Anyer tergerus, udah nggak ada itu istilah antara Anyer-Jakarta. Intinya nggak serius pemerintah, kasihan kalau bupati cuma setengah hati, nggak ngerti konsep pariwisata, nggak ngerti konsep manjual dan memberi pelayanan,” tegasnya.