Melihat sisi gelap pantai kuta di bali yang kotor dan banyak sampah

Baru-baru ini kiriman sampah menyerbu pesisir Pantai Kuta hingga Petitenget di Bali. Pemprov Bali meminta wisatawan jangan khawatir.
Bahkan, beberapa pantai sampai harus ditutup untuk kegiatan berenang maupun surfing. Tapi, Pemerintah Provinsi Bali memastikan sampah itu tertangani.
“Terkait sampah itu kitalah yang menangani. Adanya satu mindset pola pikir, bukan Bali saja. Dalam kaitan seperti ini sampah itu jadi isu, bukan Bali saja, tapi keseluruhan kita pemerintah ini mengatasi sudah seperti bagaimana pun timbulan sampah plastik mengelola sampah dalam sisi semuanya, itu sudah dilakukan,” kata Kabiro Humas Setda Provinsi Bali I Dewa Gede Mahendra Putra di Denpasar, Bali, Senin pagi.Dewa mengajak seluruh masyarakat dan wisatawan untuk menjaga kebersihan Bali. Dia pun mempersilakan para wisatawan tetap datang ke Pulau Dewata.”Jadi jangan khawatir ke Bali. Memang berbicara sampah bukan konteks pemerintah saja ini juga memerlukan perhatian masyarakat sendiri, sosialisasi jelas, apa yang kami lakukan. Akan tetapi paling pokok bagaimana kita mengatur itu di rumah tangga masing-masing, pemerintah ketegasan sudah pasti, melalui perda/pergub/maupun perbup,” urainya.”Sampah ini yang memerangi kita sendiri, masyarakat maupun pihak lain swasta. Kita tidak menginginkan rumah kita kotor. Mari kita bersama-sama mengurangi sampah ini, kekhawatiran ini.Sampah saya kira tidak menjadi satu hal yang gawat,atau dikhawatirkan,” ucap Dewa.Pihaknya juga telah menugaskan nyaris seribu tenaga kebersihan untuk meminimalisir dampak dari fenomena tahunan ini.
Belum dapat dipastikan sampai kapan siklus ini akan berakhir.

Putu memprediksi fenomena ini bakal terus terjadi hingga Maret mendatang sampai musim penghujan rampung.
Salah satu hal yang paling dikhawatirkan adalah jelang perayaan Imlek nanti, jumlah sampah besar kemungkinan meningkat.
“Kalau bulan lalu 90 persen sampah organik dan 10 persen plastik, sekarang terbalik, 80 persen sampah plastik dan 20 persennya organik,” tukasnya.
Salah satu warga Kedonganan, Bali, Mud Sarif mengaku tumpukan sawah ini mengganggu aktivitasnya sebagai nelayan. Bukan hanya itu, aktivitas wisatawan juga turun akibat kedatangan sampah-sampah ini.Kendati demikian, Mud bersama kawan-kawan nelayannya berinisiatif membantu proses pembersihan sampah, sekaligus menjual kembali sampah-sampah plastik yang masih dapat didaur ulang.