Di Eksploitasi Secara Berlebihan, Pantai Maroko Hanya Tersisa Batu Saja

Disekitar komplek apartemen yang berada di Pantai Monica disebelah barat kota pantai Mohammedia, gundukan pasir masih terlihat jelas dan jauh dari cenkeraman dari para penjarah pasir di Maroko.

Di Maroko dan berbagai tempat destinasi pantai di Afrika Utara, gundukan pasir ini menjadi seperti emas yang diburu untuk dijual kembali. Sebuah laporan dari Program Lingkungan PBB (UNEP) mengungkapkan fakta ekspoitasi pasir yang terjadi di garis pantai Maroko sudah mencapai titik yang mengkhawatirkan dan menuduh hal ini merupakan bagian dari apa yang disebut dengan Mafia Pasir.

“Pasir telah hilang di banyak garis pantai di kota wisata,” jelas aktivitis lingkungan Jawad yang merujuk pada kota Mohammedia yang berada diantara Rabat dan Casablanca.

Aktivis berusia 35 tahun ini dikenal sebagai ketua dari LSM lokal yang fokus pada masalah lingkungan khususnya masalah pantai yang bernama Anpel.

“Jika begini terus maka yang tersisa dari pantai hanya tinggal batu,” lanjut Adnane yang merupakan anggota dari Anpel.

Menurut laporan UNEP, sekitar setengah kebutuhan pasir untuk konstruksi di Maroko yang berjumlah sekitar 10 juta meter kubik merupakan hasil dari ekspoitasi illegal dan mengancam lingkungan.

“Para penjarah tersebut datang pada tengah malam, terutama pada saat musim dimana sepi turis,” kata seorang penduduk di Pantai Monica.

“Tapi mereka saat ini sudah jarang datang untuk melakukannya karena daerah ini sudah mulai ramai selain itu juga sudah hampir tidak ada lagi yang bisa diambil,” tambahnya.

Pasir merupakan sumber daya alam yang paling banyak di dunia untuk bidang konstruksi yang dimana sekitar empat perlima dari komposisi beton terdiri dari pasir.

Berbagai pantai dan sungai di dunia telah dieksploitasi untuk keperluan pembangunan berbagai bangunan diseluruh dunia baik itu secara legal ataupun ilegal.

Tidak berbeda jauh dengan tempat lain, di Maroko, pasir yang diambil dari garis pantai digunakan untuk membangun hotel, infrastruktur dan berbagai hal lainnya sehingga menyebabkan terjadinya penyusutan garis pantai yang mengakitbatkan erosi pantai.

“Pembangunan yang masif akan menyebabkan kehancuran dari tempat yang mengalami eksploitasi tersebut termasuk pantai itu sendiri sehingga akan mengakibatkan turis dan wisatawan engan kesana,” tulis laporan tersebut.

Pemerintah Maroko sendiri telah mengeluarkan peraturan untuk melarang eksploitasi pasir illegal yang dimana bagi yang melanggar dapat dipenjara selama 5 tahun.

Pasir-pasir illegal tersebut terkadang diangkut menggunakan keledai, sepeda pengiriman hingga truk besar. Hal ini terjadi dari ujung utara hingga selatan pada sepanjang garis pantai yang membentang dari Laut Mediterania hingga Atlantik.

“Dibeberapa pantai di utara bahkan sudah tidak dapat ditemukan pasir lagi,” kata aktivis ekologi di Tangiers.

“Kami melihat bahwa itu dikarenakan terdapat proyek besar di Pantai Tangier yaitu proyek real estate,” lanjutnya.

Tidak lebih baik dari sisi Utara, pada sisi Selatan penyelundupan pasir juga membuat pantai hanya tersisa batu-batu besar yang akan sangat berbahaya bagi para wisatawan.

Aktivis Jawad menjelaskan bahwa pencurian sudah menyebar dengan luas, tidak hanya pencurian dalam jumlah besar menggunakan truk akan tetapi pencurian kecil-kecilan dan sembunyi-sembunyi telah terjadi di kota Mohammedia.

Melihat hal ini, Jawad menganggap terdapat organisasi terstruktur atau paling tidak jaringan yang dapat melakukan hal ini karena sistem kerja yang mereka miliki sudah sangat rapi selain itu tidak tertutup kemungkinan terdapat campur tangan pejabat tinggi di Maroko.

“Ketika para mafia yang melakukan eksploitasi dan menyelundupkannya, para pejabat, anggota parlemen hingga pensiunan militer memberikan mereka izin atau paling tidak menjadi pelindung mereka sehingga memungkinan mereka melakukan eksploitasi tanpa memperhatikan keberlangsungan alam,” lanjut Jawad.

Dengan menggunakan Google Earth yang berada di ponsel pintar, Adnane memperlihatkan kerusakan yang diterjadi di hutan pantai yang berada sekitar 200 kilometer di sebelah selatan Casablanca.

“Disini dekat Safi, mereka telah mengambil pasir diatas lahan dengan luas 7 kilometer. Ini adalah daerah eksploitasi yang dimiliki oleh seorang pensiunan jenderal atau paling tidak sang jenderal melindungi pihak yang mengeksploitasi hutan tersebut. Kini setelah eksploitasi tersebut mereka meninggalkan area tersebut tanpa pertanggung jawaban apapun karena hutan tersebut sudah tidak ada yang dapat diambil lagi,” katanya.

Selain area hutan pantai tersebut, Adnane juga memperlihatkan satu area yang eksploitasi pasir yang dimiliki seorang politisi. Area yang dimiliki oleh politisi ini disebut-sebut mencapai 2 hektar akan tetapi hal terjadi adalah politisi tersebut mengambil lebih banyak dari 2 hektar izin yang dia miliki.

Perlindungan lingkungan saat ini menjadi prioritas oleh Maroko terutama setelah menjadi tuan ruman konferensi iklim internasional COP22 pada tahun 2016.

Sekretaris Negara Bidang Energi Nezha El Ouafi menjelaskan bahwa pemerintah Maroko telah bekerja untuk memerangi penambangan pasir illegal tersebut dengan menyiapkan sebuah rencana perlindungan pantai nasional yang disebutnya tengah dalam proses validasi.

Rencana ini diharapkan dapat menjadi garis batas eksploitasi pasir di Maroko karena dijanjikan adanya mekanisme evaluasi dalam program ini.

About: admin