BPBD Lampung: Banyak Rumah di Lampung Selatan Roboh Akibat Tsunami

Empat kecamatan di Lampung Selatan terdampak tsunami. BPBD Kabupaten Lampung Selatan menyebut banyak rumah roboh akibat tsunami.
“Dampak cukup parah di wilayah pesisir, rumah banyak yang roboh,” ujar Kepala BPBD Kabupaten Lampung Selatan, Ketut Sukerta saat dihubungi Kabarberita.Sukerta mengatakan 4 kecamatan di Lampung Selatan yang terdampak tsunami yakni Kecamatan Rajabasa, Kecamatan Kalianda, Kecamatan Sidumolyo, dan Kecamatan Katibung. Kecamatan Kalianda dan Rajabasa terdampak paling parah.
“Yang agak parah di dua kecamatan, di Kalianda dan Rajabasa,” kata Sukerta.
Saat ini pihaknya masih melakukan evakuasi korban. Kendala evakuasi yakni tertutupnya jalur evakuasi akibat material serpihan bangunan dan sampah kayu.
“Evakuasi korban ada kendalanya karena tadi malam kan gelap, jalur evaukasi tertutup oleh material bebatuan dan kayu, sampah. Saat ini masih dilakukan (evakuasi) sampai dengan selsai, tidak ada lagi yang dinyatakan hilang,” jelasnya.Rumah sakit setempat juga memberi bantuan terhadap korban luka. “Pertama kita lakukan pengobatan gratis pihak rumah sakit. Pembiayaan dari unsur pemerintah perlu musyawarah,” kata dia.
Sebelumnya Sukerta menginformasikan ada 7 orang meninggal dan 89 orang luka-luka akibat tsunami di Lampung. Terkait tsunami ini, BMKG masih akan melakukan pengecekan benar-tidaknya gelombang tinggi air diakibatkan oleh longsoran akibat erupsi Anak Gunung Krakatau.Gelombang tsunami menerjang kawasan Anyer, Banten dan Lampung. Gelombang air akibat tsunami merusak sejumlah bangunan di dua kawasan tersebut.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menduga tsunami terjadi akibat longsor dari erupsi Anak Gunung Krakatau. Tercatat per pukul 04.30 WIB, data dari BNPB, korban tewas akibat tsunami di Anyer dan Lampung sudah puluhan orang.Sebelum terjadi tsunami, BMKG telah mencatat adanya gelombang air laut pada Sabtu pagi pukul 09.00 WIB. Kemudian pukul 21.03 WIB BMKG berdasarkan hasil koordinasi dengan Badan Geologi pukul 21.27 ada kenaikan muka air pantai.
“Tanggal 22 Desember pukul 09.00 WIB sampai pukul 11.00 WIB, tim BMKG kebetulan berada di perairan Selat Sunda melakukan uji coba instrumen dan di situ terverifikasi bahwa terjadi hujan lebat dengan gelombang dan angin kencang,” kata Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono di Kantor BMKG, Jakarta Pusat.
“Oleh karena itu tim kami kembali ke darat dan akhirnya masih di tanggal 22 Desember pukul 21.03 WIB, Badan Geoglogi mengumumkan terjadi erupsi lagi anak Gunung Krakatau. Kemudian 21.27 WIB Tidegauge badan informasi geospasial yang terekam oleh BMKG menunjukan adanya tiba-tiba ada kenaikan muka air pantai,” lanjut dia.